Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

Kunti Ngesot

PARADE HOROR KOMEDI Judul : Kunti Ngesot Oleh : Aslan Yakuza dan Ayu Anisa Agislam Kunti Larasati adalah salah satu penghuni Makam Ketjeh yang paling modis dan gaul. Segala apapun yang dikenakan tak pernah ketinggalan zaman alias selalu up to date. Rambutnya direbonding dan dicat warna pirang. Selain itu, dia sangat mengidolakan Selena Gomez. Sampai-sampai dia mengubah nama belakangnya menjadi Kunti Gomez. Biar nge-hits, katanya. Tak ayal lagi, Kunti Gomez menjadi sangat terkenal di seantero Makam Ketjeh. Suatu hari, Oom Pong ayah Kunti Gomez-nama asli Gendengrupong, tapi orang-orang sering memanggilnya Oom Pong. Selain itu dia juga menjabat sebagai ketua RT Makam Ketjeh-membelikan Kunti Gomez sebuah Iphone keluaran terbaru. Dia sangat senang dengan hadiah yang dibelikan ayahnya, sampai-sampai Ipone itu tak pernah lepas darinya. Segala macam jejaring sosial pun didaftarinya. Dan hampir setiap saat selalu meng-update atau meng-upload foto selfienya. *** Hari ini Nyai Lampir ke...

Dalam Gelap

Malam ini aku tidur sendiri. Teman sekamar kostku pulang ke rumahnya siang tadi. Kulirik jam dinding, tepat pukul setengah sebelas. Rasa kantuk pun sudah tak tertahan, tapi tugas-tugas kuliah ini tak bisa ditinggalkan. Hawa dingin menusuk kulit, padahal jendela dan pintu kamar sudah tertutup. Aku merasa ada yang memperhatikanku, tapi tak ada siapa-siapa lagi di kamar ini. Tiba-tiba lampu kamar mati. Anehnya, laptop yang sedang kupakai pun ikut mati. Tak bisa dielakkan, aku takut. Hujan yang deras dengan suasana gelap semakin terasa mencekam. Lalu kucari handphone yang tadi tergeletak di dekat buku-buku kuliah, namun tak ada. Kuraba benda-benda di sekitar laptop. Deg ... Aku menyentuh sesuatu yang asing, seperti jari manusia. Jantungku semakin berdetak cepat. Ini tangan, batinku ketakutan. Beberapa detik kemudian lampu menyala. Kulihat sosok wanita berpakaian putih dengan wajah menyeramkan tersenyum menyeringai, sorot matanya tajam menatapku. Aku berteriak sekencang-kencangnya. Wa...

Dalam Satu Jiwa

Aku sakit, teriakmu. Aku tak mampu, keluhmu. Jika kau tanya kenapa aku masih bertahan sampai sekarang, jawabannya adalah kau. Kau sakit, percayalah aku pun merasa sakit. Namun aku hanya dapat mengurangi rasa sakitmu, bukan menyembuhkanmu. Kau tak mampu. Dengarlah, aku pun sama. Kita ini satu. Kau dan aku melebur dalam jiwa yang satu. Kuatlah, karena aku percaya bahwa kau bisa. Percayalah pada-Nya, karena aku yakin Dialah yang akan menyembuhkanmu. Kuatlah jiwa, dunia tak membutuhkan orang lemah sepertimu. Kuatlah, aku tahu kau mampu berdiri di atas kakimu sendiri..

Satu Purnama

Renjana membelenggu Memaksaku 'tuk slalu memikirkanmu Sesak, penuhi relung jiwaku Dan kau, hanya diam, terbujur kaku Kini bagaimana dengan kenang? Pergimu paksaku rindui bayang Lalu, adakah yang tersisa dalam terang? Jika hatiku tersita dalam hitam O, Tak mampu lagi kukenang Tiap detik jam yang berlalu setahun silam Izinkan aku melarung jingga Menyusul ragamu dalam satu purnama Mawar Hitam

Rindu

Ada yang menggumpal di sini Tepat di sisi kiri raga ini Bukan darah, pun bukan daging Hanya segumpal rindu yang entah sampai kapan kan membelenggu Sepuluh tahun tak bersua Rindui wajah sang purnama Hanya desahan angin Tak jua kian mampu obati jiwa yang mendingin Entah pada kuncup keberapa Kita bisa memandanginya bersama Dan entah pada musim yang mana Kita bisa bersua tanpa penghalang Ma, Andai aku mampu menyebrangi jarak menghancurkan dinding penghalang Akan kulakukan sejak engkau menghilang dari pandangan 'Kan kubawa engkau pulang Bersama selaksa rindu yang tak henti menerjang Ma, Andai aku mampu bersahabat dengan takdir Kurelai tunggu dengan ikhlas terukir Ma, Pada purnama keberapa lagi kau 'kan kembali? Tak rindu kah engkau pada mawar yang kian menghitam?

Kata Ajaib

Kalimat yang aneh dari seorang yang aneh ... Maaf, begitu banyak coretan-coretan hitam yang aku lukiskan di atas kanvasmu ... Jika aku mampu, akan kubuat kanvas itu bersih kembali.

MISTERI PENUTUPAN PABRIK GULA DE SUIKER

Oleh: Ayu Anisa Agislam dan Si Pemimpi Kecil “Nadinya sudah tak berdenyut ….” “Bodoh …, dasar ceroboh! Kau telah membunuhnya!” seru lelaki berperawakan tinggi-besar. “Aku telah membunuhnya?!” gumam seseorang di sampingnya dengan raut wajah pucat setengah tak percaya. ... “Bukan Kau, tapi kita bertiga telah membunuhnya!” **** Pabrik Gula De Suiker, pabrik tua peninggalan Belanda yang telah berdiri beberapa puluh tahun silam. Entah kenapa, tak seperti pabrik gula kebanyakan yang dibangun di tengah kota, lokasi pembangunan Pabrik Gula De Suiker berada di sudut kota, dengan akses jalan yang cukup sulit untuk dijangkau. Meski begitu, pabrik ini dulunya merupakan salah satu perusahaan dengan produksi gula terbesar di kota ini, gula hasil produksinya sempat mengekspansi sampai ke luar provinsi, bahkan pernah menguasai pasar gula dalam negeri. Namun, semua itu kini tinggallah cerita. Pabrik Gula De Suiker telah berhenti beroperasi sejak dua puluh tahun lalu. Banyak cerita simpang siur yang b...

Tak Bisa!

Gelap Bangunkan pengap Berhenti di titian jejak Tak ada lagi harap Musnah Tinggal lelah Butirkan payah Jengah! Harap ini tak nyata Ingin ini tak ada Atau mundur pada lampau Perbaiki terang cahya Ah! Tak bisa!

Cahaya

Setitik nila di cahya Nodai sukma halangi netra Lalui buta Lintasi luka Lihat! Lentera meredup Tinggalkan hitam Merasuk Sunyi Tak bernyawa Gelap Tanpa sekat Hai, cahya! Adakah engkau rindui-Nya-la?

Bayang

Khayalku terbang Menembus tinggi Selaksa kenang Memapah hati menuju bayang Andai hati tak terpaut Pada bayang tak menyahut Jengah, melagu gundah Meraba hati yang t'lah patah Tak kuasa berpaling Pada bayang lain Tak mudah Melihat ia tanpa netra Bolehkah rindu ini kusimpan? Untukmu bayang tak terjelang ...

Catatan Akhir

Tuan Kancing, apa kau pernah menyukai seseorang yang belum pernah kau temui? Apa pernah merindukan seseorang yang belum kau kenal? Aku rasa terlalu naif jika kau berkata tidak. Karena itu yang sedang aku rasakan.   Beberapa orang bertanya padaku :   Kenapa bisa suka? Bukannya belum lihat wajahnya! Kok bisa sih?! Atau sederet pertanyaan-pertanyaan lainnya.   Dan aku, dengan lugunya menjawab :   Lalu, bagaimana dengan si buta?   Hmmm, semua ini membuatku jengah. Seringnya sakit hati karena melihat dia bercanda-tawa dengan wanita lain. Tapi siapalah aku?   ***   Tuan Kancing, hari ini adalah hari terakhirku bersamanya. Setelah  bersama-sama membuat suatu cerita, kuputuskan untuk tidak lagi berhubungan dengannya. Bukan karena aku benci, bukan. Akhir-akhir ini aku sadar, ternyata aku begitu berlebihan. Tak seharusnya seperti ini, bukan? Berkali-kali dihadapkan pada kenyataan, namun aku selalu ...

Inginku

Pas zaman eSeMA Aku ingin seperti bintang yang tak bosan memberikan cahaya Aku ingin seperti dandelion yang terlihat rapuh namun ternyata menyimpan begitu banyak kekuatan Aku ingin seperti tulip yang memberikan kesejukan tatkala orang-orang memandangnya Aku ingin seperti pohon baobab yang tumbuh kokoh Namun, terkadang aku ingin menjadi diri sendiri tanpa harus berubah menjadi siapapun dan apapun Aku ingin jadi diriku sendiri melakukan yang terbaik dalam  hidup, semampuku ...

Freedom

Tuan Kancing, rasanya sudah tidak sabar menunggu hari di mana aku akan terbebas dari Kotak Kaca ini. Menghirup udara segar, berlari di pantai, melihat senja langsung dengan mata kepalaku sendiri, dan melihat dunia dari atas awan ... Ah, membayangkannya saja sudah membuatku tak bisa tidur semalaman. Bagaimana jika bebas nanti? Mungkin tak akan ada lagi waktu untuk memikirkan kesedihan, yang ada hanya kebahagiaan. Dan menertawakan kesedihan ... Tuan Kancing, sebentar lagi aku bebas ...       Mawar Hitam

Pilihan

Tuan Kancing, ternyata hidup itu penuh dengan pilihan. Setelah 17 tahun hidup di dunia ini, aku baru menyadarinya. -__- Selama ini, aku hanya memilih apa yang aku suka. Tanpa memikirkan dampak dan akibatnya. Sekarang, aku dihadapkan pada banyak pilihan, dan hampir semuanya aku suka. Bagaimana ini, Tuan Kancing? Tidak mungkin aku memiliki semuanya. Hanya ada satu jawaban ...

Janji

Jika janji adalah bukti Maka izinkanlah aku Memberi selaksa janji 'Tuk tak akan menduakanMu Jika nanti janji itu patah Beri aku kesempatan Aku tahu Aku tak berhak Namun kuidam hati bersih tak bercelak Biar tak ada sesal, kelak Jika nanti janjiku karam Menyisakan hati yang temaram Eratkan ia di tanganMu Agar kembali utuh, dan semakin kukuh di titian malamMu Biar tak lagi karam Meski harus menghadap gelombang

Kevin dan Tita

Entahlah, Vin. Aku mulai jengah dengan hubungan ini. Duduk sendiri menunggu, membuatku lelah, sesekali ingin beranjak pergi meninggalkan semua ini. Tapi apa dayaku? Tak pernah mampu mengakhiri. Aku sungguh lelah. Sudah tak mampu lagi menertawakan rindu ... Klik! Calling Tita ... "Untuk kali ini, aku menyerah," suaramu terdengar parau. Aku tak menjawab, bibirku kelu. Beberapa saat, kita hanya diam, tak mengeluarkan sepatah kata pun. "Vin, aku mau menyerah saja," kini suaramu terdengar tegas, kali ini membuat hatiku gundah. "Kenapa harus menyerah? Bukankah selama tiga tahun terakhir ini, kita baik-baik saja?" kuatur napas yang mulai terasa sesak. "Aku sudah tak tahan, kita putus saja!" Nada suaramu meninggi. Hening ... Aku tak mampu bicara lagi.

No Title

Dengan menyebut namaMu Kulukis tiap-tiap mimpiku Tak pernah ragu Menggantungkan harap padaMu Aku berlindung kepadaMu Dari kabut hitam pekat Hati yang berkarat Dan tak sempat bertaubat Aku mohon ampun kepadaMu Jangan biarkan terulang kembali Larungkan sesal di hati Kembali padaMu dengan qalbu suci

Gara - Gara Bokek

Oleh: Ayu Anisa Agislam (Kupink-Kunti Pink) dan Siti Atiyah Nurfadhillah (Dedemit Kece) Kreeekk! Dia hanya cengok melihat lemari persediaan makanannya melompong. Yang tersisa di sana hanya tinggal terigu, tapioka, gula, dan minyak sayur saja. Dia pun merogoh dompet di saku baju yang dipakainya ... Gleek! Ditelannya ludah yang terasa mengganjal di tenggorokan, hanya tersisa e-KTD (Kartu Tanda Demit) dan ..., "Tunggu ..., apaan tu yang nyempil?" batinnya, "Jangan-jangan dollar hihi ..." ditariknya kertas yang tersangkut di salah satu celah dompet itu. "Heee ... Dollar apaan, ini sih tagihan utang di warung mpok Sundel." Dengusnya kesal. Dia mulai garuk-garuk kepala. Ingin rasanya membangunkan Kupink--teman satu kost--tapi tak tega. "Tuk! Tuk! Tuk! Mikir dong, Mit ..., mikir!" Dia mengetuk-ngetuk kepalanya. "Ngapain Mit noyor-noyor kepala sendiri?" Tiba-tiba Si Tuyul datang. "Eeh, ngapain lu di sini, Yul?!" Tanya d...

Cinta Pandang Pertama

Untuk hati yang dilema Sesak, penuh laksa bunga Entah ini apa Mengalun indah di relung jiwa Pernah kutanya diri Tentang apa yang kurasa kini Namun, ia hanya tersipu Menampakkan rona pipi, malu Rekah senyum Dengar sebutan namamu Bak kembang api meledak Jantungku berdetak Dan kutanya hati Ia hanya tertunduk dan berkata : ia ini cinta Cinta pada pandang pertama

Ayah Dalam Diam

 Sang Pemilik nyawa  Bawa pulang satu nama  Merenggut  Jiwa ikhlas berpulang    Tangis memecah sunyi  Do'a tanpa henti  Berharap sang jiwa  Tenang dalam mati    Bisu, pucat pasi  Nadi terhenti  Diselimuti kidung hitam  Lumpuh di peraduan    Memutar kenangan  saat-saat terindah  Lewatkan waktu  bersama  Hadirkan bayang  Tak lelah dengar rintihan    Marahmu,  Kasih tulusmu  Diammu,  Rasukan gundah di kalbu    Ayah,  kucinta, namun tak kuungkapkan  Malu, enggan  Adalah penghalang  Diam, pahami  adalah nyataku    Perih,  relakanmu berbalut kafan tak bercelak  Lunglai, rubuh  Gerimis menghujam  Nanar, basahi jiwa  melepuh, luruh    Siap bertahan  Menikmati rindu yang menerjang  Siap tegar  Melewati waktu  t...

Perjalanan

Semasa SMP, gue, Dirga dan Galih hampir tiap hari pulang sekolah jalan kaki. Dirga itu sepupu gue yang paling alay, manja, penakut, pokoknya kelakuannya udah kayak cewek  deh. Tidur aja masih minta ditemenin sama nyokapnya *untung gak minta ditemenin sama gue. Galih, dia sohib gue. Gue sama dia udah kenal sejak gue masih doyan beli jajanan aci yang digoreng sama telor *zaman SD.  Kita bertiga ditakdirkan sama-sama terus kayaknya, dari sejak SD sampai SMP selalu sekelas, jadi gak heran kalo ke mana-mana bertiga terus. Pernah suatu hari pas gue lagi ngumpulin tugas ke ruang guru, Bu Titin guru Bahasa Indonesia nanya, "Aqil, kok sendiri? Dua macan lagi ke mana?" "Dua macan, bu?" Gue planga plongo, gak ngerti. "Iya, dua macan. Galih sama Dirga, kalian udah kayak trio macan sih, ke mana-mana bertiga." Bu Titin ketawa. Gue cengo, gak ngerti apa maksudnya *ketauan lemotnya.     ***   Jarak dari rumah ke sekolah lumayan deket kok, cuman 2.5 k...

Aki - Aki Saliwang

Dina hiji mangsa, Ceu Itoh keur natah di saung di pipir imahna. "Duh, ni asa beuki panas panon poe teh. Jadi haus." Ceuk Ceu Itoh bari ngusap kesang dina tarangna. "Hayang meuli minuman nu amis-amis, naon cai bodas wae mah bosen ah," Ceu Itoh nyimpeun tatah dina kai di hareupeunana, "tapi hoream ka warung na, ah, panas." Ceu Itoh kukulutus, luak lieuk neangana titaheun. "Eeh, pan kuring teh boga budak, nya. Naha jadi anemia kieu?" Ceu Itoh rungah ringeuh, "kela kela, mun hilang ingatan teh disebutna anemia atawa amnesia? Alaaah pokona mah eta we lah, jadi ngacapruk kieu ieu teh." Ceu itoh nyabak tarangna sorangan. "Maan.. Emaaan." Ceu Itoh ngagoroan budakna nu bungsu nyaeta si Eman. Si Eman teh  budak pang kasepna di antara opat budak ceu Itoh, lantaran lanceuk-lanceuk na mah awewe kabeh. Ceu Itoh lila ngagoroan si Eman, tapi teu budakna eta teu nonghol-nonghol. "Emaaaaan.." Ngagorowok gaya artis di sinet...

Kevin dan Tita

Duduk sendiri menunggu, membuatku lelah, sesekali ingin beranjak pergi meninggalkan semua ini. Tapi apa dayaku? Tak pernah mampu mengakhiri. Aku sungguh lelah, Vin. Sudah tak mampu lagi menertawakan jarak.