Langsung ke konten utama

MISTERI PENUTUPAN PABRIK GULA DE SUIKER

Oleh: Ayu Anisa Agislam dan Si Pemimpi Kecil

“Nadinya sudah tak berdenyut ….”

“Bodoh …, dasar ceroboh! Kau telah membunuhnya!” seru lelaki berperawakan tinggi-besar.

“Aku telah membunuhnya?!” gumam seseorang di sampingnya dengan raut wajah pucat setengah tak percaya....

“Bukan Kau, tapi kita bertiga telah membunuhnya!”

****

Pabrik Gula De Suiker, pabrik tua peninggalan Belanda yang telah berdiri beberapa puluh tahun silam. Entah kenapa, tak seperti pabrik gula kebanyakan yang dibangun di tengah kota, lokasi pembangunan Pabrik Gula De Suiker berada di sudut kota, dengan akses jalan yang cukup sulit untuk dijangkau. Meski begitu, pabrik ini dulunya merupakan salah satu perusahaan dengan produksi gula terbesar di kota ini, gula hasil produksinya sempat mengekspansi sampai ke luar provinsi, bahkan pernah menguasai pasar gula dalam negeri.

Namun, semua itu kini tinggallah cerita. Pabrik Gula De Suiker telah berhenti beroperasi sejak dua puluh tahun lalu. Banyak cerita simpang siur yang beredar di masyarakat mengenai penyebab ditutupnya pabrik gula ini. Ada yang bilang pabrik ditutup karena bangkrut—kalah bersaing dengan pabrik gula baru yang dibangun di pusat kota. Ada juga yang mengatakan pabrik ditutup paksa pemerintah karena terlibat skandal pembayaran pajak yang melibatkan banyak pihak dan pejabat besar.

Tidak hanya itu, ada pula sebagian masyarakat yang mengaitkan penyebab penutupan pabrik dengan suatu hal yang tidak masuk akal—hal-hal yang berbau mistis. Dan herannya, justru penyebab inilah yang paling dipercaya dan disukai banyak orang untuk dijadikan bahan perbincangan di warung-warung kopi. Hal itu diperkuat dengan kejadian-kejadian ganjil yang sering terjadi di sekitar pabrik, seperti seorang penjual nasi goreng yang mengaku pernah mendengar jeritan-jeritan di tengah malam, seorang sopir taksi yang mendengar suara tangisan menyayat seorang perempuan, dan yang terbaru adalah seorang warga yang ditemukan tak sadarkan diri di pagi hari, lalu ketika sadar warga tersebut mengatakan bahwa tadi malam ia melihat sesosok wanita pucat mengenakan busana seperti seragam pabrik dengan luka tusukkan yang berlumuran darah.

Awalnya aku juga tak percaya dengan kejadian-kejadian beraroma mistis tersebut. Bagiku cerita-cerita itu hanyalah hasil imajinasi para penakut, imajinasinya menjelma dalam bayangan yang hanya bisa dilihat oleh dirinya sendiri, prosesnya hampir mirip seperti terbentuknya fatamorgana di padang pasir yang gersang. Namun perlahan, pandanganku tentang itu mulai berubah. Tepatnya semenjak seminggu lalu, aku mendengar cerita mengenai tragedi berdarah yang pernah terjadi di Pabrik Gula De Suiker dari kakekku.

Beginilah kisahnya ….

****

Di suatu malam, tepat pukul sebelas, para pegawai mulai meninggalkan Pabrik Gula De Suiker. Mereka baru selesai kerja lembur malam ini. Dua orang -seorang perempuan cantik dan seorang lelaki bisu- pulang paling akhir karena kebetulan malam ini adalah jadwal piket mereka untuk merapikan tempat kerja sebelum pulang. Mereka berdua bersahabat. Ada atau tidak ada jadwal piket, mereka memang selalu pulang bersama. Selain karena sering kebagian shift yang sama, rumah mereka juga berdekatan.

“Huh, akhirnya selesai juga bersih-bersihnya, ayo kita pulang!” ucap si perempuan cantik sambil meletakkan seragam kerja di dalam loker.

Si lelaki bisu mengangguk, tanda ia menyetujui ajakan perempuan itu untuk segera pulang.

Mereka berdua berjalan menyusuri jalanan samping pabrik menuju gerbang-pintu keluar. Di tengah jalan, tiba-tiba si lelaki bisu teringat, kalau dompetnya tertinggal di dalam loker. Ia lupa mengambil dompet dari saku seragam kerja sebelum menyimpannya di dalam loker. Si lelaki bisu pun kembali ke dalam pabrik untuk mengambil dompetnya yang tertinggal.

“Jangan lama-lama yaa, aku tunggu di sini …,” ujar si perempuan.

Si lelaki bisu menatap wajah si perempuan, menganggukkan kepala, lalu segera berjalan cepat menuju loker pekerja. Ia meninggalkan perempuan cantik itu sendirian.

Jarak jalanan di mana perempuan itu berada dengan lokasi loker pekerja cukup jauh. Perempuan itu sudah menunggu cukup lama. Ia tidak sadar, kalau ternyata di belakangnya ada tiga orang pegawai laki-laki berperawakan besar yang dari tadi diam-diam mengawasinya.

Tiga pegawai laki-laki itu pun menghampiri perempuan itu.

“Malem Neng cantik, nungguin siapa? Nungguin abang yaa?” goda pegawai lelaki yang berambut gondrong.

“Iya Neng, sendirian aja nih, boleh nggak abang temenin …,” pegawai lelaki kedua menimpali, sambil mencolek tangan si perempuan tadi.

Si perempuan hanya bisa diam, ia berjalan pelan menjauhi ketiga lelaki itu. Ketiga pegawai lelaki itu pun terus menggoda si perempuan. Dan sekarang posisi si perempuan telah berada di tengah kepungan ketiga pegawai lelaki itu.

“Tolong … tolong!” teriak si perempuan meminta tolong.

Namun nahas, suasana pabrik saat itu sudah terlanjur sepi, tak ada seorang pun yang mendengar teriakannya. Karena ketakutan, si perempuan itu memutuskan untuk lari. Tapi, belum juga genap ia melangkah, kakinya terhenti. Seorang pegawai lelaki berkepala plontos memegang tangan kirinya.

“Jangan lari, Neng. Di sini aja sama abang, kita bersenang-senang malam ini,” ujar pegawai berambut gondrong sambil menarik tangan kanan perempuan itu.

“Lepaskan, tolong … tolong!” Si perempuan mencoba melawan.

Melihat sebuah pintu ruangan pabrik yang masih terbuka, ketiga pegawai itu pun menyeret si perempuan ke dalam pabrik yang keadaannya sangat sepi. Lampu penerangannya pun remang-remang—tidak terlalu terang.

“Di sini kita sudah aman, Neng. Ayolah, tak usah melawan ... turuti saja perintah abang.”

Si perempuan berontak. Terus melawan. “Tolong!”

****

Si lelaki bisu sudah mengambil dompetnya dan kini berjalan mendekati lokasi di mana perempuan -sahabatnya- tadi berada. Namun ia tak mendapati sosok perempuan cantik itu di sana. Dengan pendengarannya yang memang kurang sempurna, sayup-sayup ia mendengar orang meminta tolong. Ia pun berjalan menuju sumber suara.

Ia tercengang, melihat sahabat perempuannya sedang diperlakukan secara kasar dan tidak senonoh oleh ketiga pegawai lelaki itu. Ia mau berteriak meminta tolong, tetapi tidak bisa—ia bisu. Mau masuk dan ikut melawan, sama saja ia menyerahkan nyawanya secara cuma-cuma kepada ketiga lelaki itu. Ia pun hanya bisa menyaksikan kejadian penganiyaan bengis itu dari sekat-sekat jeruji pabrik dengan rasa penuh penyesalan.

“Kumohon jangan lakukan itu! kumohon, jangan ... tolooong! si perempuan memohon, menangis.

Ketiga lelaki itu semakin menggila. Mereka semakin kasar memperlakukan perempuan itu.

“Dasar lelaki biadab!” serapah si perempuan, “cuuuiih ...!” Perempuan itu meludahi pegawai lelaki berkepala plontos.

“Perempuan jalang!” bentak si kepala plontos.

"Plaakk!" Lelaki itu menamparnya dan mendorong si perempuan ke sebuah peralatan pabrik dengan kasar.

Tanpa dinyana, tubuh perempuan itu tertusuk pelat tajam peralatan pabrik yang berada di belakangnya, ia tertusuk tepat di bagian punggung, plat itu pun menembus jantungnya. Darah segar mengalir, menetes dari tubuh si perempuan. Sejurus kemudian tubuh wanita itu sudah diam--tak berkutik.

“Nadinya sudah tak berdenyut ….”

“Bodoh … dasar ceroboh! Kau telah membunuhnya!” seru lelaki berperawakan tinggi-besar.

“Aku telah membunuhnya?!” gumam seseorang di sampingnya dengan raut wajah pucat setengah tak percaya.

“Bukan Kau, tapi kita bertiga telah membunuhnya!”

Sejenak mereka bertiga terdiam. Hawa ketakutan mulai merayapi jengkal demi jengkal bagian tubuh mereka.

"Lalu …, sekarang kita harus bagaimana?!" tanya salah seorang dari mereka. Panik.

"Kita kuburkan saja mayatnya untuk menghilangkan jejak. Heh, Kau … segera bersihkan darah yang berceceran!" ucap salah satu dari mereka, galak.

Si lelaki bisu hanya bisa menyaksikan sahabatnya dianiaya. Kini batinnya merasa sangat terpukul, nuraninya tersayat, melihat salah seorang yang selama ini begitu dekat dengannya kini sudah tak lagi bernyawa. Ia ingin menolong, tapi apa daya … ia tak bisa berbuat apa-apa.

Tak ingin membuang banyak waktu, ketiga pegawai itu pun memutuskan untuk mengubur jasad wanita itu di tempat yang tak jauh dari areal pabrik. Mereka juga membersihkan darah yang berceceran di lantai dan peralatan pabrik, agar tak ada lagi bukti pembunuhan yang tersisa. Mereka tak sadar bahwa si lelaki bisu masih membuntuti mereka, ia berjalan dengan sangat hati-hati, mencari tempat untuk bersembunyi.

Dua orang bertugas menggali tanah untuk pekuburan, yang satu lagi bertugas mengamati keadaan sekitar. Daerah sekitar pabrik memang cukup sepi, jarang dilewati orang-orang apalagi ketika malam hari telah menjelang.

Setelah lubang selesai digali, mereka dengan kasar melemparkan mayat perempuan itu ke dalam liang lahat. Lalu buru-buru menutupnya dengan timbunan tanah.

Sementara itu tak jauh dari lokasi penguburan, di dekat pohon beringin besar, si lelaki bisu bersembunyi. Ia hanya bisa memperhatikan jasad sahabatnya diperlakukan dengan tidak wajar oleh ketiga pegawai lelaki itu.

Setelah semuanya dirasa sudah aman, ketiga pegawai lelaki itu bergegas meninggalkan tempat penguburan. Mereka keluar areal pabrik lewat pintu belakang yang memang terbebas dari pengawasan.

Si lelaki bisu dengan langkah gontai mendekati tempat di mana sahabatnya tadi dikuburkan, ia menancapkan sebatang ranting di atas gundukan tanah itu, mengambil segenggam tanah lalu menciumnya dengan takzim. Air matanya tak sanggup lagi ia bendung, perasaannya berkecamuk hebat tak karuan. Mulutnya hanya bisa diam, namun di dalam hatinya ia tengah menjerit, menyerukan suara jiwanya yang sungguh sudah tak bisa lagi diredam.

****

Tiga hari kemudian. Di suatu senja yang murung ….

“Mayat … ada mayaat!” teriak seorang pegawai menggemparkan seluruh isi pabrik.

Seorang pegawai laki-laki dengan perawakan tinggi-besar dan berkepala plontos, ditemukan tewas di kamar mandi pabrik, darah berceceran di mana-mana, mulutnya menganga, dadanya robek tertusuk sebilah besi tepat di bagian jantungnya. Di dekat jasadnya tertera sebaris tulisan, yang di bentuk dengan kucuran darah merah. Tulisan itu bisa dengan jelas terbaca oleh setiap pegawai lain yang melihatnya, MATILAH KAU PARA BEDEBAH!

Menanggapi kejadian itu, dewan direksi pabrik langsung mengadakan rapat tertutup. Dan menghasilkan keputusan, untuk menyembunyikan kasus ini dari pihak mana pun. Para pegawai diminta tutup mulut. Para direksi tak ingin kasus pembunuhan itu merusak nama baik pabrik, membuat pabrik bangkrut, apalagi gulung tikar.

Dan ... dimulai sejak hari itu, berita kematian terus menebar teror.

****

Konon katanya ketika malam hari telah tiba, tepat pukul sebelas malam, sering terdengar suara perempuan menangis, kadang juga terdengar jeritan-jeritan yang menyayat hati. Bahkan menurut kabar burung, seorang pegawai pernah melihat sesosok wanita berlumuran darah di sekitar areal pabrik. Cerita-cerita mistis itu pun semakin membuat Deni dan Agus merasa terancam.

Yaa … Deni dan Agus adalah dua pelaku pembunuh pegawai perempuan yang masih tersisa.

“Gus, kayaknya arwah si perempuan yang kita bunuh beberapa hari lalu nggak tenang di alam sana, arwah perempuan itu penasaran.”

“Aaahh, ngaco kamu Den. Kalau ngomong itu dipikir dulu pakai otak!”

“Kamu nggak inget, Den … kematian teman kita kemarin, tertusuk tepat di jantungnya, persis seperti perempuan yang kita bunuh dulu. Perempuan itu juga tertusuk tepat di bagian jantung.

“Eeemm ….” Deni berpikir.

Lalu mereka berdua diam, beradu prasangka dalam hening.

****

Lima hari kemudian.

Sepulang lembur, Agus berjalan menyusuri jalanan samping pabrik. Ia merasa seperti ada sesosok bayangan yang dari tadi mengikutinya. Namun, ketika dia membalikkan badan untuk mengawasi keadaan sekitar, tak ada siapa pun di sana. Bulu kuduk Agus merinding. Di pikirannya masih terngiang-ngiang bayangan wajah perempuan yang dibunuhnya beberapa waktu lalu, dan juga bayangan tubuh sahabatnya yang berlumuran darah, yang meninggal secara tragis di kamar mandi pabrik.

Gelap malam telah tenggelam, berganti dengan pagi yang masih penuh dengan misteri.

Pegawai-pegawai pabrik mulai melakukan aktivitas sebagaimana biasanya.

“Aguuus …!” pekik seorang pegawai, mengacaukan suasana damai di pagi hari.

Mendengar nama sahabatnya disebut. Deni langsung lari tunggang langgang menuju sumber suara. Deni kaget bukan kepalang, ia menemukan tubuh Agus yang sudah tak bernyawa di dalam gudang. Wajahnya hancur, bola matanya hampir ke luar, dan tubuh kurusnya dipenuhi luka tusukkan. Lagi, di dekat jasad itu tertera tulisan yang sama, MATILAH KAU PARA BEDEBAH!

Sama seperti kasus sebelumnya, kasus kematian Agus pun disembunyikan oleh pihak pabrik.

Situasi itu membuat Deni semakin merasa tertekan. Hatinya mulai gusar, pikirannya gamang. Karena merasa bersalah, ia pun memutuskan untuk melaporkan kejadian itu kepada polisi. Satu demi satu perkara, dimulai dari kronologis awal pembunuhan si perempuan, berlanjut dengan terbunuhnya kedua temannya secara mengenaskan, semuanya dibeberkan oleh Deni secara detail dan panjang lebar kepada polisi. Merespon laporan dari Deni, pihak kepolisian langsung melakukan inspeksi mendadak ke pabrik tersebut. Di lokasi kejadian, Deni menujukkan tempat penguburan mayat si perempuan. Akhirnya pusara si perempuan itu pun digali, jasadnya diangkat untuk keperluan otopsi. Setelah itu jasad si perempuan diserahkan kepada pihak keluarga. Pihak keluarga korban diliputi kesedihan yang begitu mendalam menerima kenyataan itu. Sang bapak mengira anak perempuannya itu tidak pulang karena menginap di rumah temannya, karena korban memang sering melakukan hal demikian.

Semua kasus terungkap dan barang bukti telah didapat. Seluruh pihak yang terlibat kasus ini di gelandang ke kantor polisi. Dan karena skandal pembunuhan ini, akhirnya sejak saat itulah Pabrik Gula De Suiker ditutup secara paksa oleh pemerintah kota.

****

Semenjak hari kematian Agus, Deni lebih suka melamun. Ia lebih suka mengurung diri di dalam sel. Ia berharap dengan pengakuannya kepada polisi, arwah si perempuan akan bisa tenang dan tidak memburunya lagi. Namun, di mana pun seseorang berada, kematian akan senantiasa mengikutinya. Deni ditemukan mati di toilet kantor polisi, tubuhnya penuh dengan luka tusukan di daerah sekitar perutnya, organ dalamnya pun hampir terburai ke luar. Dan lagi … di dekat mayat Deni, tertera pula tulisan yang sama, MATILAH KAU PARA BEDEBAH!

****

Di suatu pagi setelah pabrik ditutup, seorang tukang bersih-bersih seperti biasa menjalankan rutinitasnya. Meskipun pabrik sudah ditutup, namun ia tetap ditugaskan untuk membersihkan pabrik setiap pagi, agar suatu saat ketika pabrik kembali dibuka, sudah langsung siap untuk beroperasi.

Entah mimpi apa si tukang bersih-bersih semalam, ia dikejutkan dengan penemuan sesosok mayat laki-laki yang tergeletak di dalam pabrik, lokasinya tepat di mana dulu pegawai perempuan itu terbunuh. Bagian dadanya tertusuk sebilah pisau menembus jantungnya.

Setelah si tukang bersih-bersih melapor, polisi pun berdatangan ke lokasi kejadian. Dari hasil pemeriksaan yang telah dilakukan, polisi menyimpulkan bahwa itu adalah kasus bunuh diri. Dan yang membuat para polisi tercengang adalah adanya secarik surat yang tergeletak di samping mayat itu, yang isinya kurang lebih seperti ini ….

#### Teruntuk seorang sahabat yang telah dengan tulus bersedia menerima segala kekuranganku. Dan persembahan terakhir untuk perempuan yang diam-diam sangat kucintai.
Aku telah lama memendam perasaan ini, dan sungguh sejak dahulu aku sangat ingin mengungkapkan rasa cinta ini. Namun aku menyadari, aku tak pantas untukmu. Engkau bagaikan seorang putri yang cantik jelita, sedangkan aku hanyalah manusia yang buruk rupa. Aku manusia yang dipenuhi keterbatasan, yang mungkin tak 'kan pernah bisa membuat hidupmu bahagia. Karena itulah aku sangat menikmati keadaan ini, keadaan ketika bisa menatap wajah cantikmu dari jarak sedekat mungkin, bisa selalu memandang senyum indahmu yang begitu mendamaikan. Itu sudah lebih dari cukup untukku. Aku hanya berharap, suatu saat nanti akan ada pangeran tampan yang datang menjemputmu, membawamu ke istananya, dan bisa membuatmu selalu tertawa bahagia. Sejujurnya, jikalau engkau bahagia hidup dengannya, aku pun akan turut berbahagia di sini.
Namun ... tiga lelaki bengis itu merampas segalanya dariku, membuyarkan segala mimpi-mimpiku, merenggutmu dari sisiku untuk selamanya. Aku sangat menyesali kepengecutanku malam itu. Tapi kumohon, tersenyumlah kasih … aku telah tuntas membalaskan semuanya. Ketiga lelaki bengis itu telah menerima perlakuan yang sama seperti dulu mereka memperlakukanmu. Dan kini, aku merasa hidupku sudah ada artinya lagi. Kau telah pergi jauh dari hidupku.
Tenanglah kasih … malam ini aku akan menyusulmu ….####

Itulah sepenggal isi surat dari si lelaki bisu untuk seorang perempuan yang terbunuh, di malam itu ….


The end

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bayang

Khayalku terbang Menembus tinggi Selaksa kenang Memapah hati menuju bayang Andai hati tak terpaut Pada bayang tak menyahut Jengah, melagu gundah Meraba hati yang t'lah patah Tak kuasa berpaling Pada bayang lain Tak mudah Melihat ia tanpa netra Bolehkah rindu ini kusimpan? Untukmu bayang tak terjelang ...

Gara - Gara Bokek

Oleh: Ayu Anisa Agislam (Kupink-Kunti Pink) dan Siti Atiyah Nurfadhillah (Dedemit Kece) Kreeekk! Dia hanya cengok melihat lemari persediaan makanannya melompong. Yang tersisa di sana hanya tinggal terigu, tapioka, gula, dan minyak sayur saja. Dia pun merogoh dompet di saku baju yang dipakainya ... Gleek! Ditelannya ludah yang terasa mengganjal di tenggorokan, hanya tersisa e-KTD (Kartu Tanda Demit) dan ..., "Tunggu ..., apaan tu yang nyempil?" batinnya, "Jangan-jangan dollar hihi ..." ditariknya kertas yang tersangkut di salah satu celah dompet itu. "Heee ... Dollar apaan, ini sih tagihan utang di warung mpok Sundel." Dengusnya kesal. Dia mulai garuk-garuk kepala. Ingin rasanya membangunkan Kupink--teman satu kost--tapi tak tega. "Tuk! Tuk! Tuk! Mikir dong, Mit ..., mikir!" Dia mengetuk-ngetuk kepalanya. "Ngapain Mit noyor-noyor kepala sendiri?" Tiba-tiba Si Tuyul datang. "Eeh, ngapain lu di sini, Yul?!" Tanya d...

Kunti Ngesot

PARADE HOROR KOMEDI Judul : Kunti Ngesot Oleh : Aslan Yakuza dan Ayu Anisa Agislam Kunti Larasati adalah salah satu penghuni Makam Ketjeh yang paling modis dan gaul. Segala apapun yang dikenakan tak pernah ketinggalan zaman alias selalu up to date. Rambutnya direbonding dan dicat warna pirang. Selain itu, dia sangat mengidolakan Selena Gomez. Sampai-sampai dia mengubah nama belakangnya menjadi Kunti Gomez. Biar nge-hits, katanya. Tak ayal lagi, Kunti Gomez menjadi sangat terkenal di seantero Makam Ketjeh. Suatu hari, Oom Pong ayah Kunti Gomez-nama asli Gendengrupong, tapi orang-orang sering memanggilnya Oom Pong. Selain itu dia juga menjabat sebagai ketua RT Makam Ketjeh-membelikan Kunti Gomez sebuah Iphone keluaran terbaru. Dia sangat senang dengan hadiah yang dibelikan ayahnya, sampai-sampai Ipone itu tak pernah lepas darinya. Segala macam jejaring sosial pun didaftarinya. Dan hampir setiap saat selalu meng-update atau meng-upload foto selfienya. *** Hari ini Nyai Lampir ke...