Apakah ini mimpi? Setelah tiga tahun menghilang dan dinyatakan meninggal, kini dia ada di hadapanku, dengan senyumannya yang khas. Untuk beberapa detik, mataku tak berkedip. Kugosok-gosok mataku yang tidak gatal. Dia masih ada di hadapanku. Ini bukan mimpi! Yakinku dalam hati. Tak ada yang banyak berubah darinya. Hanya rambut yang sedikit lebih panjang. Wajahnya tampak pucat, kontras sekali dengan bajunya yang berwarna merah muda. Tapi tak heran, sejak dulu kulitnya memang putih. Ah, Ami. Kau masih seperti dulu. Sepertinya aku mulai jatuh cinta lagi padamu. Kami berdua duduk di bangku taman. Tempat yang paling bersejarah bagi kami. "Apa kabar, Za?" sapa Ami, membuyarkan lamunanku. "E-eh, baik, Mi. Kamu ke mana aja selama ini? Bu-bukannya kamu ..." Tak berani kuteruskan, aku takut melukai hatinya. Dia hanya tersenyum, manis, seperti dulu. "Kamu sendiri apa kabar, Mi?" tanyaku sambil menggenggam tangannya yang mungil. Tangannya dingin sekali. ...