Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2014

Kunti Ngesot

PARADE HOROR KOMEDI Judul : Kunti Ngesot Oleh : Aslan Yakuza dan Ayu Anisa Agislam Kunti Larasati adalah salah satu penghuni Makam Ketjeh yang paling modis dan gaul. Segala apapun yang dikenakan tak pernah ketinggalan zaman alias selalu up to date. Rambutnya direbonding dan dicat warna pirang. Selain itu, dia sangat mengidolakan Selena Gomez. Sampai-sampai dia mengubah nama belakangnya menjadi Kunti Gomez. Biar nge-hits, katanya. Tak ayal lagi, Kunti Gomez menjadi sangat terkenal di seantero Makam Ketjeh. Suatu hari, Oom Pong ayah Kunti Gomez-nama asli Gendengrupong, tapi orang-orang sering memanggilnya Oom Pong. Selain itu dia juga menjabat sebagai ketua RT Makam Ketjeh-membelikan Kunti Gomez sebuah Iphone keluaran terbaru. Dia sangat senang dengan hadiah yang dibelikan ayahnya, sampai-sampai Ipone itu tak pernah lepas darinya. Segala macam jejaring sosial pun didaftarinya. Dan hampir setiap saat selalu meng-update atau meng-upload foto selfienya. *** Hari ini Nyai Lampir ke...

Dalam Gelap

Malam ini aku tidur sendiri. Teman sekamar kostku pulang ke rumahnya siang tadi. Kulirik jam dinding, tepat pukul setengah sebelas. Rasa kantuk pun sudah tak tertahan, tapi tugas-tugas kuliah ini tak bisa ditinggalkan. Hawa dingin menusuk kulit, padahal jendela dan pintu kamar sudah tertutup. Aku merasa ada yang memperhatikanku, tapi tak ada siapa-siapa lagi di kamar ini. Tiba-tiba lampu kamar mati. Anehnya, laptop yang sedang kupakai pun ikut mati. Tak bisa dielakkan, aku takut. Hujan yang deras dengan suasana gelap semakin terasa mencekam. Lalu kucari handphone yang tadi tergeletak di dekat buku-buku kuliah, namun tak ada. Kuraba benda-benda di sekitar laptop. Deg ... Aku menyentuh sesuatu yang asing, seperti jari manusia. Jantungku semakin berdetak cepat. Ini tangan, batinku ketakutan. Beberapa detik kemudian lampu menyala. Kulihat sosok wanita berpakaian putih dengan wajah menyeramkan tersenyum menyeringai, sorot matanya tajam menatapku. Aku berteriak sekencang-kencangnya. Wa...

Dalam Satu Jiwa

Aku sakit, teriakmu. Aku tak mampu, keluhmu. Jika kau tanya kenapa aku masih bertahan sampai sekarang, jawabannya adalah kau. Kau sakit, percayalah aku pun merasa sakit. Namun aku hanya dapat mengurangi rasa sakitmu, bukan menyembuhkanmu. Kau tak mampu. Dengarlah, aku pun sama. Kita ini satu. Kau dan aku melebur dalam jiwa yang satu. Kuatlah, karena aku percaya bahwa kau bisa. Percayalah pada-Nya, karena aku yakin Dialah yang akan menyembuhkanmu. Kuatlah jiwa, dunia tak membutuhkan orang lemah sepertimu. Kuatlah, aku tahu kau mampu berdiri di atas kakimu sendiri..

Satu Purnama

Renjana membelenggu Memaksaku 'tuk slalu memikirkanmu Sesak, penuhi relung jiwaku Dan kau, hanya diam, terbujur kaku Kini bagaimana dengan kenang? Pergimu paksaku rindui bayang Lalu, adakah yang tersisa dalam terang? Jika hatiku tersita dalam hitam O, Tak mampu lagi kukenang Tiap detik jam yang berlalu setahun silam Izinkan aku melarung jingga Menyusul ragamu dalam satu purnama Mawar Hitam

Rindu

Ada yang menggumpal di sini Tepat di sisi kiri raga ini Bukan darah, pun bukan daging Hanya segumpal rindu yang entah sampai kapan kan membelenggu Sepuluh tahun tak bersua Rindui wajah sang purnama Hanya desahan angin Tak jua kian mampu obati jiwa yang mendingin Entah pada kuncup keberapa Kita bisa memandanginya bersama Dan entah pada musim yang mana Kita bisa bersua tanpa penghalang Ma, Andai aku mampu menyebrangi jarak menghancurkan dinding penghalang Akan kulakukan sejak engkau menghilang dari pandangan 'Kan kubawa engkau pulang Bersama selaksa rindu yang tak henti menerjang Ma, Andai aku mampu bersahabat dengan takdir Kurelai tunggu dengan ikhlas terukir Ma, Pada purnama keberapa lagi kau 'kan kembali? Tak rindu kah engkau pada mawar yang kian menghitam?

Kata Ajaib

Kalimat yang aneh dari seorang yang aneh ... Maaf, begitu banyak coretan-coretan hitam yang aku lukiskan di atas kanvasmu ... Jika aku mampu, akan kubuat kanvas itu bersih kembali.

MISTERI PENUTUPAN PABRIK GULA DE SUIKER

Oleh: Ayu Anisa Agislam dan Si Pemimpi Kecil “Nadinya sudah tak berdenyut ….” “Bodoh …, dasar ceroboh! Kau telah membunuhnya!” seru lelaki berperawakan tinggi-besar. “Aku telah membunuhnya?!” gumam seseorang di sampingnya dengan raut wajah pucat setengah tak percaya. ... “Bukan Kau, tapi kita bertiga telah membunuhnya!” **** Pabrik Gula De Suiker, pabrik tua peninggalan Belanda yang telah berdiri beberapa puluh tahun silam. Entah kenapa, tak seperti pabrik gula kebanyakan yang dibangun di tengah kota, lokasi pembangunan Pabrik Gula De Suiker berada di sudut kota, dengan akses jalan yang cukup sulit untuk dijangkau. Meski begitu, pabrik ini dulunya merupakan salah satu perusahaan dengan produksi gula terbesar di kota ini, gula hasil produksinya sempat mengekspansi sampai ke luar provinsi, bahkan pernah menguasai pasar gula dalam negeri. Namun, semua itu kini tinggallah cerita. Pabrik Gula De Suiker telah berhenti beroperasi sejak dua puluh tahun lalu. Banyak cerita simpang siur yang b...

Tak Bisa!

Gelap Bangunkan pengap Berhenti di titian jejak Tak ada lagi harap Musnah Tinggal lelah Butirkan payah Jengah! Harap ini tak nyata Ingin ini tak ada Atau mundur pada lampau Perbaiki terang cahya Ah! Tak bisa!

Cahaya

Setitik nila di cahya Nodai sukma halangi netra Lalui buta Lintasi luka Lihat! Lentera meredup Tinggalkan hitam Merasuk Sunyi Tak bernyawa Gelap Tanpa sekat Hai, cahya! Adakah engkau rindui-Nya-la?

Bayang

Khayalku terbang Menembus tinggi Selaksa kenang Memapah hati menuju bayang Andai hati tak terpaut Pada bayang tak menyahut Jengah, melagu gundah Meraba hati yang t'lah patah Tak kuasa berpaling Pada bayang lain Tak mudah Melihat ia tanpa netra Bolehkah rindu ini kusimpan? Untukmu bayang tak terjelang ...