Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2014

Catatan Akhir

Tuan Kancing, apa kau pernah menyukai seseorang yang belum pernah kau temui? Apa pernah merindukan seseorang yang belum kau kenal? Aku rasa terlalu naif jika kau berkata tidak. Karena itu yang sedang aku rasakan.   Beberapa orang bertanya padaku :   Kenapa bisa suka? Bukannya belum lihat wajahnya! Kok bisa sih?! Atau sederet pertanyaan-pertanyaan lainnya.   Dan aku, dengan lugunya menjawab :   Lalu, bagaimana dengan si buta?   Hmmm, semua ini membuatku jengah. Seringnya sakit hati karena melihat dia bercanda-tawa dengan wanita lain. Tapi siapalah aku?   ***   Tuan Kancing, hari ini adalah hari terakhirku bersamanya. Setelah  bersama-sama membuat suatu cerita, kuputuskan untuk tidak lagi berhubungan dengannya. Bukan karena aku benci, bukan. Akhir-akhir ini aku sadar, ternyata aku begitu berlebihan. Tak seharusnya seperti ini, bukan? Berkali-kali dihadapkan pada kenyataan, namun aku selalu ...

Inginku

Pas zaman eSeMA Aku ingin seperti bintang yang tak bosan memberikan cahaya Aku ingin seperti dandelion yang terlihat rapuh namun ternyata menyimpan begitu banyak kekuatan Aku ingin seperti tulip yang memberikan kesejukan tatkala orang-orang memandangnya Aku ingin seperti pohon baobab yang tumbuh kokoh Namun, terkadang aku ingin menjadi diri sendiri tanpa harus berubah menjadi siapapun dan apapun Aku ingin jadi diriku sendiri melakukan yang terbaik dalam  hidup, semampuku ...

Freedom

Tuan Kancing, rasanya sudah tidak sabar menunggu hari di mana aku akan terbebas dari Kotak Kaca ini. Menghirup udara segar, berlari di pantai, melihat senja langsung dengan mata kepalaku sendiri, dan melihat dunia dari atas awan ... Ah, membayangkannya saja sudah membuatku tak bisa tidur semalaman. Bagaimana jika bebas nanti? Mungkin tak akan ada lagi waktu untuk memikirkan kesedihan, yang ada hanya kebahagiaan. Dan menertawakan kesedihan ... Tuan Kancing, sebentar lagi aku bebas ...       Mawar Hitam

Pilihan

Tuan Kancing, ternyata hidup itu penuh dengan pilihan. Setelah 17 tahun hidup di dunia ini, aku baru menyadarinya. -__- Selama ini, aku hanya memilih apa yang aku suka. Tanpa memikirkan dampak dan akibatnya. Sekarang, aku dihadapkan pada banyak pilihan, dan hampir semuanya aku suka. Bagaimana ini, Tuan Kancing? Tidak mungkin aku memiliki semuanya. Hanya ada satu jawaban ...

Janji

Jika janji adalah bukti Maka izinkanlah aku Memberi selaksa janji 'Tuk tak akan menduakanMu Jika nanti janji itu patah Beri aku kesempatan Aku tahu Aku tak berhak Namun kuidam hati bersih tak bercelak Biar tak ada sesal, kelak Jika nanti janjiku karam Menyisakan hati yang temaram Eratkan ia di tanganMu Agar kembali utuh, dan semakin kukuh di titian malamMu Biar tak lagi karam Meski harus menghadap gelombang

Kevin dan Tita

Entahlah, Vin. Aku mulai jengah dengan hubungan ini. Duduk sendiri menunggu, membuatku lelah, sesekali ingin beranjak pergi meninggalkan semua ini. Tapi apa dayaku? Tak pernah mampu mengakhiri. Aku sungguh lelah. Sudah tak mampu lagi menertawakan rindu ... Klik! Calling Tita ... "Untuk kali ini, aku menyerah," suaramu terdengar parau. Aku tak menjawab, bibirku kelu. Beberapa saat, kita hanya diam, tak mengeluarkan sepatah kata pun. "Vin, aku mau menyerah saja," kini suaramu terdengar tegas, kali ini membuat hatiku gundah. "Kenapa harus menyerah? Bukankah selama tiga tahun terakhir ini, kita baik-baik saja?" kuatur napas yang mulai terasa sesak. "Aku sudah tak tahan, kita putus saja!" Nada suaramu meninggi. Hening ... Aku tak mampu bicara lagi.

No Title

Dengan menyebut namaMu Kulukis tiap-tiap mimpiku Tak pernah ragu Menggantungkan harap padaMu Aku berlindung kepadaMu Dari kabut hitam pekat Hati yang berkarat Dan tak sempat bertaubat Aku mohon ampun kepadaMu Jangan biarkan terulang kembali Larungkan sesal di hati Kembali padaMu dengan qalbu suci

Gara - Gara Bokek

Oleh: Ayu Anisa Agislam (Kupink-Kunti Pink) dan Siti Atiyah Nurfadhillah (Dedemit Kece) Kreeekk! Dia hanya cengok melihat lemari persediaan makanannya melompong. Yang tersisa di sana hanya tinggal terigu, tapioka, gula, dan minyak sayur saja. Dia pun merogoh dompet di saku baju yang dipakainya ... Gleek! Ditelannya ludah yang terasa mengganjal di tenggorokan, hanya tersisa e-KTD (Kartu Tanda Demit) dan ..., "Tunggu ..., apaan tu yang nyempil?" batinnya, "Jangan-jangan dollar hihi ..." ditariknya kertas yang tersangkut di salah satu celah dompet itu. "Heee ... Dollar apaan, ini sih tagihan utang di warung mpok Sundel." Dengusnya kesal. Dia mulai garuk-garuk kepala. Ingin rasanya membangunkan Kupink--teman satu kost--tapi tak tega. "Tuk! Tuk! Tuk! Mikir dong, Mit ..., mikir!" Dia mengetuk-ngetuk kepalanya. "Ngapain Mit noyor-noyor kepala sendiri?" Tiba-tiba Si Tuyul datang. "Eeh, ngapain lu di sini, Yul?!" Tanya d...

Cinta Pandang Pertama

Untuk hati yang dilema Sesak, penuh laksa bunga Entah ini apa Mengalun indah di relung jiwa Pernah kutanya diri Tentang apa yang kurasa kini Namun, ia hanya tersipu Menampakkan rona pipi, malu Rekah senyum Dengar sebutan namamu Bak kembang api meledak Jantungku berdetak Dan kutanya hati Ia hanya tertunduk dan berkata : ia ini cinta Cinta pada pandang pertama

Ayah Dalam Diam

 Sang Pemilik nyawa  Bawa pulang satu nama  Merenggut  Jiwa ikhlas berpulang    Tangis memecah sunyi  Do'a tanpa henti  Berharap sang jiwa  Tenang dalam mati    Bisu, pucat pasi  Nadi terhenti  Diselimuti kidung hitam  Lumpuh di peraduan    Memutar kenangan  saat-saat terindah  Lewatkan waktu  bersama  Hadirkan bayang  Tak lelah dengar rintihan    Marahmu,  Kasih tulusmu  Diammu,  Rasukan gundah di kalbu    Ayah,  kucinta, namun tak kuungkapkan  Malu, enggan  Adalah penghalang  Diam, pahami  adalah nyataku    Perih,  relakanmu berbalut kafan tak bercelak  Lunglai, rubuh  Gerimis menghujam  Nanar, basahi jiwa  melepuh, luruh    Siap bertahan  Menikmati rindu yang menerjang  Siap tegar  Melewati waktu  t...

Perjalanan

Semasa SMP, gue, Dirga dan Galih hampir tiap hari pulang sekolah jalan kaki. Dirga itu sepupu gue yang paling alay, manja, penakut, pokoknya kelakuannya udah kayak cewek  deh. Tidur aja masih minta ditemenin sama nyokapnya *untung gak minta ditemenin sama gue. Galih, dia sohib gue. Gue sama dia udah kenal sejak gue masih doyan beli jajanan aci yang digoreng sama telor *zaman SD.  Kita bertiga ditakdirkan sama-sama terus kayaknya, dari sejak SD sampai SMP selalu sekelas, jadi gak heran kalo ke mana-mana bertiga terus. Pernah suatu hari pas gue lagi ngumpulin tugas ke ruang guru, Bu Titin guru Bahasa Indonesia nanya, "Aqil, kok sendiri? Dua macan lagi ke mana?" "Dua macan, bu?" Gue planga plongo, gak ngerti. "Iya, dua macan. Galih sama Dirga, kalian udah kayak trio macan sih, ke mana-mana bertiga." Bu Titin ketawa. Gue cengo, gak ngerti apa maksudnya *ketauan lemotnya.     ***   Jarak dari rumah ke sekolah lumayan deket kok, cuman 2.5 k...

Aki - Aki Saliwang

Dina hiji mangsa, Ceu Itoh keur natah di saung di pipir imahna. "Duh, ni asa beuki panas panon poe teh. Jadi haus." Ceuk Ceu Itoh bari ngusap kesang dina tarangna. "Hayang meuli minuman nu amis-amis, naon cai bodas wae mah bosen ah," Ceu Itoh nyimpeun tatah dina kai di hareupeunana, "tapi hoream ka warung na, ah, panas." Ceu Itoh kukulutus, luak lieuk neangana titaheun. "Eeh, pan kuring teh boga budak, nya. Naha jadi anemia kieu?" Ceu Itoh rungah ringeuh, "kela kela, mun hilang ingatan teh disebutna anemia atawa amnesia? Alaaah pokona mah eta we lah, jadi ngacapruk kieu ieu teh." Ceu itoh nyabak tarangna sorangan. "Maan.. Emaaan." Ceu Itoh ngagoroan budakna nu bungsu nyaeta si Eman. Si Eman teh  budak pang kasepna di antara opat budak ceu Itoh, lantaran lanceuk-lanceuk na mah awewe kabeh. Ceu Itoh lila ngagoroan si Eman, tapi teu budakna eta teu nonghol-nonghol. "Emaaaaan.." Ngagorowok gaya artis di sinet...

Kevin dan Tita

Duduk sendiri menunggu, membuatku lelah, sesekali ingin beranjak pergi meninggalkan semua ini. Tapi apa dayaku? Tak pernah mampu mengakhiri. Aku sungguh lelah, Vin. Sudah tak mampu lagi menertawakan jarak.