Oleh: Ayu Anisa Agislam (Kupink-Kunti Pink) dan Siti Atiyah Nurfadhillah (Dedemit Kece)
Kreeekk!
Dia hanya cengok melihat lemari persediaan makanannya melompong. Yang tersisa di sana hanya tinggal terigu, tapioka, gula, dan minyak sayur saja. Dia pun merogoh dompet di saku baju yang dipakainya ...
Gleek! Ditelannya ludah yang terasa mengganjal di tenggorokan, hanya tersisa e-KTD (Kartu Tanda Demit) dan ..., "Tunggu ..., apaan tu yang nyempil?" batinnya, "Jangan-jangan dollar hihi ..." ditariknya kertas yang tersangkut di salah satu celah dompet itu.
"Heee ... Dollar apaan, ini sih tagihan utang di warung mpok Sundel." Dengusnya kesal.
Dia mulai garuk-garuk kepala. Ingin rasanya membangunkan Kupink--teman satu kost--tapi tak tega.
"Tuk! Tuk! Tuk! Mikir dong, Mit ..., mikir!" Dia mengetuk-ngetuk kepalanya.
"Ngapain Mit noyor-noyor kepala sendiri?" Tiba-tiba Si Tuyul datang.
"Eeh, ngapain lu di sini, Yul?!" Tanya dia kaget.
"Mau minjem gayung ..., gayung di kamar mandi Uyul ilang ..., hiks hiks," Si Tuyul malah nangis sesenggukan.
"Kenapa gak beli lagi aja, Yul? Lu kan banyak duit," dia tertegun, "Kenapa gak minjem dulu aja ya ama ni Tuyul Koreng?" batinnya kegirangan, "Eh, Yul. Minjem duit dong, gue lagi gak ada duit sepeser pun ni ..." Dia memelas.
"Kasih gak yaaa ..., ah ogah! Nyang kemaren aje belom dibayar," sungut Tuyul kesal.
"Ayo dong, Yuuul ..., kali iniii aja," dia mengerdip- ngerdipkan mata.
"Kagaaak!" Jawab Si Tuyul sambil membuka lebar-lebar mulutnya.
"Diih, bau lu Yul. Belom sikat gigi Lu, ya? Dasar, udah bau, korengan, pelit pula." Sungut si Dedemit kesal.
"Biarin ..., pinjem gayungnya ya, Mit," pinta Si Tuyul mengalihkan pembicaraan.
"Ogaah, beli aja sono!" Jawab Dedemit sambil memalingkan wajahnya dari si Tuyul Koreng.
"Pelit lu," Si Tuyul meninggalkan dia seorang diri di dapur.
"Elo juga kaleee ...!" Seru dia jengkel.
"Sekarang gimana? Masa gak makan?" keluhnya lesu.
Satu menit ...
Dua menit ...
Tiga menit ...
Aha! Seketika sketsa bunga kemboja dan melati menari-nari di pikirannya. "Ini kudu dipraktikkan!"
***
Kakinya melangkah mendekati Kupink. Uh ..., Kupink tidurnya benar-benar pulas, saingan sama beruang yang sedang hibernasi. Dedemit menggerutu.
''Kupiinkk ...! Bangguunnn!''
Kriik ... Kriik ... Kriik
Kupink tak bergerak sedikit pun. "Heemm ... ya udah deh besok aja," Dedemit Kece menarik napas panjang. Kukuruyuukk! Perutnya semakin berkokok kencang meminta sepiring bakwan. Kokok di perutnya menjadi melodi yang mendayu menemani heningnya malam.
***
Esoknya ....
''Ya udah, kalo kita sama-sama bokek berarti harus cari cara supaya kita nggak kelaparan. Mulai sekarang kita bukan anak emak lagi, harus mikir lebih dewasa. Bayangin, kita kuliah di Penchake baru semester dua. Bayar kosat-an aja yang kemarin nunggak. Jangan salahin bokap-nyokap di rumah karena telat ngirimin dolar. Hayuk, mulai sekarang kita belajar mandiri!'' Usulnya panjang lebar pada teman seperjuangannya itu.
''Gue siap, Bos! Asal jangan disuruh jadi tukang sedot tinja aja,'' jawab Kupink asal.
"Terpaksa deh gue jual benda keramat pemberian nenek gue," dia mengambil kotak dekil berukuran 3x3 cm.
"Apaan tu, Mit?" tanya Kupink penasaran.
Sebenarnya, dia enggan menjual benda peninggalan neneknya tersebut, tapi karena kepepet, apa boleh buat ...
Dia pun mengeluarkan isi kotak tersebut.
"Gigi emas, hiks ..., hiks,"
Kupink hanya melongo ...
***
Treng! Trong! Treng! Trong! Gombreng! Srengg! Pak ... Puk ... Pak ... Puk!
Suara kesibukan di dapur sangat terdengar. Dia dan Kupink meramu resep hasil googling dari internet penuh semangat.
''Esens kemboja dan melatinya jangan lupa. Nanti dikemasnya pake daun pisang, okay!''
''Woke, Boss!''
***
Lapak Dedemit Kece dan Kupink sangat penuh digulung oleh para demit yang hendak sarapan sebelum pergi ngantor dan ngampus. Keduanya hampir kewalahan melayani para konsumen ini, namun dia dan Kupink tetap bersikukuh memberikan pelayanan terbaik.
Selang beberapa bulan, kue jajakan Dedemit Kece dan Kupink semakin dikenal masyarakat hantu karena aroma kemboja dan melatinya yang sangat khas. Tidak hanya itu, orderan demi orderan kian membanjiri usahanya, sampai Vampire dari Amerika pun penasaran ingin mencicipi kue tersebut.
Dalam waktu setahun, cabang bisnis kue Dedemit Kece dan Kupink kian menjamur di seantero makam lokal dan interlokal.
''Hahaha ..., the power of kepepet! Berkat jual gigi emas peninggalan nenek, usaha kita makin gede.'' Tawa mereka berdua berbarengan.
Mereka menamai produknya dengan nama ''KUE CUCUR PINK AROMA MELATI DAN KEMBOJA''.
Selesai
Kreeekk!
Dia hanya cengok melihat lemari persediaan makanannya melompong. Yang tersisa di sana hanya tinggal terigu, tapioka, gula, dan minyak sayur saja. Dia pun merogoh dompet di saku baju yang dipakainya ...
Gleek! Ditelannya ludah yang terasa mengganjal di tenggorokan, hanya tersisa e-KTD (Kartu Tanda Demit) dan ..., "Tunggu ..., apaan tu yang nyempil?" batinnya, "Jangan-jangan dollar hihi ..." ditariknya kertas yang tersangkut di salah satu celah dompet itu.
"Heee ... Dollar apaan, ini sih tagihan utang di warung mpok Sundel." Dengusnya kesal.
Dia mulai garuk-garuk kepala. Ingin rasanya membangunkan Kupink--teman satu kost--tapi tak tega.
"Tuk! Tuk! Tuk! Mikir dong, Mit ..., mikir!" Dia mengetuk-ngetuk kepalanya.
"Ngapain Mit noyor-noyor kepala sendiri?" Tiba-tiba Si Tuyul datang.
"Eeh, ngapain lu di sini, Yul?!" Tanya dia kaget.
"Mau minjem gayung ..., gayung di kamar mandi Uyul ilang ..., hiks hiks," Si Tuyul malah nangis sesenggukan.
"Kenapa gak beli lagi aja, Yul? Lu kan banyak duit," dia tertegun, "Kenapa gak minjem dulu aja ya ama ni Tuyul Koreng?" batinnya kegirangan, "Eh, Yul. Minjem duit dong, gue lagi gak ada duit sepeser pun ni ..." Dia memelas.
"Kasih gak yaaa ..., ah ogah! Nyang kemaren aje belom dibayar," sungut Tuyul kesal.
"Ayo dong, Yuuul ..., kali iniii aja," dia mengerdip- ngerdipkan mata.
"Kagaaak!" Jawab Si Tuyul sambil membuka lebar-lebar mulutnya.
"Diih, bau lu Yul. Belom sikat gigi Lu, ya? Dasar, udah bau, korengan, pelit pula." Sungut si Dedemit kesal.
"Biarin ..., pinjem gayungnya ya, Mit," pinta Si Tuyul mengalihkan pembicaraan.
"Ogaah, beli aja sono!" Jawab Dedemit sambil memalingkan wajahnya dari si Tuyul Koreng.
"Pelit lu," Si Tuyul meninggalkan dia seorang diri di dapur.
"Elo juga kaleee ...!" Seru dia jengkel.
"Sekarang gimana? Masa gak makan?" keluhnya lesu.
Satu menit ...
Dua menit ...
Tiga menit ...
Aha! Seketika sketsa bunga kemboja dan melati menari-nari di pikirannya. "Ini kudu dipraktikkan!"
***
Kakinya melangkah mendekati Kupink. Uh ..., Kupink tidurnya benar-benar pulas, saingan sama beruang yang sedang hibernasi. Dedemit menggerutu.
''Kupiinkk ...! Bangguunnn!''
Kriik ... Kriik ... Kriik
Kupink tak bergerak sedikit pun. "Heemm ... ya udah deh besok aja," Dedemit Kece menarik napas panjang. Kukuruyuukk! Perutnya semakin berkokok kencang meminta sepiring bakwan. Kokok di perutnya menjadi melodi yang mendayu menemani heningnya malam.
***
Esoknya ....
''Ya udah, kalo kita sama-sama bokek berarti harus cari cara supaya kita nggak kelaparan. Mulai sekarang kita bukan anak emak lagi, harus mikir lebih dewasa. Bayangin, kita kuliah di Penchake baru semester dua. Bayar kosat-an aja yang kemarin nunggak. Jangan salahin bokap-nyokap di rumah karena telat ngirimin dolar. Hayuk, mulai sekarang kita belajar mandiri!'' Usulnya panjang lebar pada teman seperjuangannya itu.
''Gue siap, Bos! Asal jangan disuruh jadi tukang sedot tinja aja,'' jawab Kupink asal.
"Terpaksa deh gue jual benda keramat pemberian nenek gue," dia mengambil kotak dekil berukuran 3x3 cm.
"Apaan tu, Mit?" tanya Kupink penasaran.
Sebenarnya, dia enggan menjual benda peninggalan neneknya tersebut, tapi karena kepepet, apa boleh buat ...
Dia pun mengeluarkan isi kotak tersebut.
"Gigi emas, hiks ..., hiks,"
Kupink hanya melongo ...
***
Treng! Trong! Treng! Trong! Gombreng! Srengg! Pak ... Puk ... Pak ... Puk!
Suara kesibukan di dapur sangat terdengar. Dia dan Kupink meramu resep hasil googling dari internet penuh semangat.
''Esens kemboja dan melatinya jangan lupa. Nanti dikemasnya pake daun pisang, okay!''
''Woke, Boss!''
***
Lapak Dedemit Kece dan Kupink sangat penuh digulung oleh para demit yang hendak sarapan sebelum pergi ngantor dan ngampus. Keduanya hampir kewalahan melayani para konsumen ini, namun dia dan Kupink tetap bersikukuh memberikan pelayanan terbaik.
Selang beberapa bulan, kue jajakan Dedemit Kece dan Kupink semakin dikenal masyarakat hantu karena aroma kemboja dan melatinya yang sangat khas. Tidak hanya itu, orderan demi orderan kian membanjiri usahanya, sampai Vampire dari Amerika pun penasaran ingin mencicipi kue tersebut.
Dalam waktu setahun, cabang bisnis kue Dedemit Kece dan Kupink kian menjamur di seantero makam lokal dan interlokal.
''Hahaha ..., the power of kepepet! Berkat jual gigi emas peninggalan nenek, usaha kita makin gede.'' Tawa mereka berdua berbarengan.
Mereka menamai produknya dengan nama ''KUE CUCUR PINK AROMA MELATI DAN KEMBOJA''.
Selesai
Komentar
Posting Komentar