Entahlah, Vin. Aku mulai jengah dengan hubungan ini.
Duduk sendiri menunggu, membuatku lelah, sesekali ingin beranjak pergi meninggalkan semua ini. Tapi apa dayaku? Tak pernah mampu mengakhiri.
Aku sungguh lelah. Sudah tak mampu lagi menertawakan rindu ...
Klik!
Calling Tita ...
"Untuk kali ini, aku menyerah," suaramu terdengar parau.
Aku tak menjawab, bibirku kelu.
Beberapa saat, kita hanya diam, tak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Vin, aku mau menyerah saja," kini suaramu terdengar tegas, kali ini membuat hatiku gundah.
"Kenapa harus menyerah? Bukankah selama tiga tahun terakhir ini, kita baik-baik saja?" kuatur napas yang mulai terasa sesak.
"Aku sudah tak tahan, kita putus saja!" Nada suaramu meninggi.
Hening ...
Aku tak mampu bicara lagi.
Duduk sendiri menunggu, membuatku lelah, sesekali ingin beranjak pergi meninggalkan semua ini. Tapi apa dayaku? Tak pernah mampu mengakhiri.
Aku sungguh lelah. Sudah tak mampu lagi menertawakan rindu ...
Klik!
Calling Tita ...
"Untuk kali ini, aku menyerah," suaramu terdengar parau.
Aku tak menjawab, bibirku kelu.
Beberapa saat, kita hanya diam, tak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Vin, aku mau menyerah saja," kini suaramu terdengar tegas, kali ini membuat hatiku gundah.
"Kenapa harus menyerah? Bukankah selama tiga tahun terakhir ini, kita baik-baik saja?" kuatur napas yang mulai terasa sesak.
"Aku sudah tak tahan, kita putus saja!" Nada suaramu meninggi.
Hening ...
Aku tak mampu bicara lagi.
Komentar
Posting Komentar