Langsung ke konten utama

Little nightmare

Apakah ini mimpi? Setelah tiga tahun menghilang dan dinyatakan meninggal, kini dia ada di hadapanku, dengan senyumannya yang khas.
Untuk beberapa detik, mataku tak berkedip. Kugosok-gosok mataku yang tidak gatal. Dia masih ada di hadapanku.
Ini bukan mimpi! Yakinku dalam hati.

Tak ada yang banyak berubah darinya. Hanya rambut yang sedikit lebih panjang. Wajahnya tampak pucat, kontras sekali dengan bajunya yang berwarna merah muda. Tapi tak heran, sejak dulu kulitnya memang putih.
Ah, Ami. Kau masih seperti dulu. Sepertinya aku mulai jatuh cinta lagi padamu.

Kami berdua duduk di bangku taman. Tempat yang paling bersejarah bagi kami.

"Apa kabar, Za?" sapa Ami, membuyarkan lamunanku.

"E-eh, baik, Mi. Kamu ke mana aja selama ini? Bu-bukannya kamu ..."

Tak berani kuteruskan, aku takut melukai hatinya.
Dia hanya tersenyum, manis, seperti dulu.

"Kamu sendiri apa kabar, Mi?" tanyaku sambil menggenggam tangannya yang mungil.

Tangannya dingin sekali.

"Aku baik, Za. Kamu udah lama gak main ke rumah," Dia tampak sedih. Dahinya berkerut, bibirnya mengerucut.

"Aku sibuk banget, Mi." Jawabku sambil mengelus-elus rambutnya yang lembut.

"Sibuk apa sih, Za? Palingan juga kamu sibuk pacaran." Dia memukul kecil dadaku.

Kami memang sudah tidak menjalin hubungan lagi. Tapi kupikir, pembicaraan kami 3 tahun silam sudah cukup menjelaskan semuanya. Saat itu aku menyukai orang lain. Dan meski sempat menangis, dia akhirnya setuju untuk hanya menjalin persahabatan denganku. Walau kulihat ada sedikit kekecewaan di raut wajahnya.

"Za ..." Tangannya yang dingin membelai wajahku.

Kami saling bertatapan. Dia tersenyum manis. Wajah kami semakin mendekat. Aku memejamkan mata.

"Aaak," suaraku tercekat.

Mataku terbelalak. Kurasakan darah segar mengalir dari leherku.
Sekilas aku melihat televisi yang masih menyala.

Ke mana Ami?

Tiba-tiba semuanya menjadi gelap.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bayang

Khayalku terbang Menembus tinggi Selaksa kenang Memapah hati menuju bayang Andai hati tak terpaut Pada bayang tak menyahut Jengah, melagu gundah Meraba hati yang t'lah patah Tak kuasa berpaling Pada bayang lain Tak mudah Melihat ia tanpa netra Bolehkah rindu ini kusimpan? Untukmu bayang tak terjelang ...

Kunti Ngesot

PARADE HOROR KOMEDI Judul : Kunti Ngesot Oleh : Aslan Yakuza dan Ayu Anisa Agislam Kunti Larasati adalah salah satu penghuni Makam Ketjeh yang paling modis dan gaul. Segala apapun yang dikenakan tak pernah ketinggalan zaman alias selalu up to date. Rambutnya direbonding dan dicat warna pirang. Selain itu, dia sangat mengidolakan Selena Gomez. Sampai-sampai dia mengubah nama belakangnya menjadi Kunti Gomez. Biar nge-hits, katanya. Tak ayal lagi, Kunti Gomez menjadi sangat terkenal di seantero Makam Ketjeh. Suatu hari, Oom Pong ayah Kunti Gomez-nama asli Gendengrupong, tapi orang-orang sering memanggilnya Oom Pong. Selain itu dia juga menjabat sebagai ketua RT Makam Ketjeh-membelikan Kunti Gomez sebuah Iphone keluaran terbaru. Dia sangat senang dengan hadiah yang dibelikan ayahnya, sampai-sampai Ipone itu tak pernah lepas darinya. Segala macam jejaring sosial pun didaftarinya. Dan hampir setiap saat selalu meng-update atau meng-upload foto selfienya. *** Hari ini Nyai Lampir ke...

Janji

Jika janji adalah bukti Maka izinkanlah aku Memberi selaksa janji 'Tuk tak akan menduakanMu Jika nanti janji itu patah Beri aku kesempatan Aku tahu Aku tak berhak Namun kuidam hati bersih tak bercelak Biar tak ada sesal, kelak Jika nanti janjiku karam Menyisakan hati yang temaram Eratkan ia di tanganMu Agar kembali utuh, dan semakin kukuh di titian malamMu Biar tak lagi karam Meski harus menghadap gelombang