Entah apa lagi yang harus aku lakukan, semua terasa berat. Jujur saja, aku tak bisa lagi menahannya. Tentang penyakit dan rasa takut yang tak hentinya merasuk ke pikiran ini. Lelah, aku sangat ingin tidur.
Aku ingin sembuh. aku ingin merasakan kedamaian, ketenangan, tanpa harus bertarung melawan penyakit dan rasa takut yang terus menghantui. Sungguh jika tanpa Dia, mungkin aku sudah tak ada lagi di dunia ini, karena nafsu yang setiap saat tak henti-hentinya menyuruhku untuk bunuh diri.
***
Hari itu, hari ketika aku sudah benar-benar putus asa. Tak ada lagi semangat. Lelah, sangat lelah. Aku ingin menyerah. Dan hampir saja aku melakukannya, melakukan hal yang sangat Dia benci. Tapi, dengan kasih sayangNya aku masih bisa hidup sampai saat ini. Aaaah, sungguh aku sangat zalim terhadap diriku sendiri. Tak seharusnya penyakit ini melalaikan dan membunuh semangatku.
Ternyata selama ini aku hanya mengandalkan kekuatanku sendiri, padahal aku mempunyai Dia yang Maha kuat. Dia yang akan selalu membantu dan menyayangi hamba-Nya.
Aku sering menyakiti diri sendiri ketika merasa sakit dan tertekan, sampai ketika aku memukul kepalaku sendiri dengan keras karena tak tahan dengan rasa sakit itu. Tapi aku selalu meyakinkan diriku sendiri, bahwa Dia selalu bersamaku. Tanpa harus aku minta. Dan betapa bodohnya aku jika aku mengabaikan-Nya.
***
Tatapanku kosong, entah ke mana pikiranku saat itu.
Tak ada bintang, langit sungguh gelap. Aku bisa melihat langit dari dalam kamarku lewat kaca yang terpasang di langit-langit kamar. Buku yang sejak tadi kupegang, tak kubaca sama sekali. Aku lelah, aku ingin tidur.
Entah kenapa di luar sangat ramai, suara orang mengobrol saling bersahutan. Aku pun beranjak dari tempat tidur. Kubuka pintu kamar lalu berjalan ke ruang tamu.
“Ah, tak ada siapa-siapa,” desahku.
"Lalu dari mana datangnya suara itu?" Kuedarkan pandangan ke seluruh ruangan. "Mungkin hanya perasaanku saja."
Aku pun berbalik menuju kamar. Tapi seseorang menepuk pundakku. Dengan refleks kepalaku berbalik, ternyata dia Rani, temanku. Tapi tunggu, siapa pria yang bersama Rani? Ah, mungkin nanti Rani akan memperkenalkannya padaku.
Aku dan rani pun mengobrol. Tapi entah apa yang aku bicarakan dengannya. Sungguh aneh. Dan Rani sama sekali tak memperkenalkan pria itu padaku.
Pria itu juga hanya diam, tak ikut berbicara.
“Kenapa dia?” pikirku.
Namun setelah beberapa lama, pria itu bangkit lalu berjalan keluar rumah. Tanpa berbicara sepatah kata pun. Tentu itu membuat aku dan Rani keheranan. Tidak, mungkin hanya aku yang keheranan. Harusnya Rani tahu ada apa dengan pria itu.
Tapi anehnya Rani tak menegur atau mengejar pria itu. Kami hanya berdiri di depan pintu sambil menyaksikan pria itu pergi meninggalkan kami.
Dan ketika pria itu sudah berada di luar pagar rumah, pria itu berkata, "Percayalah pada Tuhan!”
Aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Semua ini membuatku bingung.
Aku terdiam sepersekian detik. Tak sedikit pun kalimat yang terlontar dari mulutku.
"Apa yang sudah terjadi, Ran?" Aku bertanya tanpa menoleh ke arah Rani.
Tak ada jawaban.
"Ran,"
Entah kenapa rani menghilang. Dia tak ada lagi di sebelahku.
Aku terus memanggilnya, tapi lagi-lagi tak ada jawaban darinya.
Apa ini? Sungguh aku tak mengerti.
Kuhempaskan diri ke atas kasur. Aku mencoba tenang dan memejamkan mata.
Beberapa menit kemudian, kelopak mataku terbuka perlahan. Entah kenapa ruangan ini menjadi terang sekali.
Kukedip-kedipkan mataku, mencoba beradaptasi dengan cahaya yang begitu terang ini.
Ah, ternyata lampunya belum dimatikan. Tanganku masih erat memeluk buku yang tak kubaca sama sekali.
Komentar
Posting Komentar